Rekonstruksi Historiografis Penaklukan Mulae Oleh La Kilaponto dan Berdirinya Kesultanan Buton pada Abad ke-16
Abstrak
Transformasi kerajaan Buton menjadi kesultanan Islam pada abad ke-16 merupakan salah satu peristiwa penting dalam sejarah politik Sulawesi Tenggara. Tokoh sentral dalam proses ini adalah La Kilaponto, yang setelah menerima Islam dikenal sebagai Sultan Murhum. Namun kronologi mengenai naiknya La Kilaponto ke tampuk kekuasaan tidak sepenuhnya jelas karena sebagian besar sumber berasal dari tradisi lisan, kronik lokal, dan catatan genealogis. Artikel ini bertujuan merekonstruksi proses tersebut melalui pendekatan historiografi kritis dengan menggabungkan tradisi lokal Buton dan Muna, kronik Wolio, serta studi modern tentang politik maritim Asia Tenggara. Penelitian ini menunjukkan bahwa naiknya La Kilaponto merupakan hasil dari dinamika politik regional yang melibatkan krisis internal kerajaan Buton, fenomena perompakan laut yang diasosiasikan dengan tokoh La Bolontio, serta intervensi elite politik dari Kerajaan Muna. Proses konsolidasi kekuasaan kemudian diikuti oleh Islamisasi politik yang mengubah kerajaan Buton menjadi Kesultanan Buton, sekaligus mengintegrasikannya ke dalam jaringan Islam maritim Asia Tenggara.
Kata kunci: Buton, La Kilaponto, Sultan Murhum, bajak laut, Islamisasi, Sulawesi Tenggara.
Pendahuluan
Sejarah awal Kesultanan Buton merupakan salah satu topik penting dalam historiografi Indonesia timur. Transformasi kerajaan Buton dari monarki lokal menjadi kesultanan Islam tidak hanya mencerminkan perubahan religius, tetapi juga perubahan struktur politik dan integrasi ke dalam jaringan perdagangan maritim Asia Tenggara.¹
Dalam tradisi historiografi Buton, tokoh yang memainkan peran sentral dalam transformasi tersebut adalah La Kilaponto, yang setelah memeluk Islam dikenal sebagai Sultan Murhum.² Ia dianggap sebagai pendiri Kesultanan Buton dan sebagai tokoh yang mengakhiri periode kerajaan pra-Islam.
Namun demikian, rekonstruksi kronologi mengenai naiknya La Kilaponto tidak sepenuhnya jelas. Sebagian besar sumber berasal dari:
-
kronik lokal Buton (sering disebut Kabanti atau kronik Wolio),
-
tradisi lisan,
-
genealogis aristokrasi lokal.³
Sumber-sumber tersebut sering memadukan unsur sejarah, legitimasi politik, dan narasi simbolik.
Beberapa tokoh penting muncul dalam tradisi tersebut, antara lain:
-
Mulae, raja Buton sebelum masa kesultanan
-
La Bolontio, tokoh yang digambarkan sebagai bajak laut
-
La Kilaponto, tokoh dari Muna yang kemudian mengambil alih kekuasaan.⁴
Artikel ini berupaya merekonstruksi peristiwa tersebut melalui pendekatan historiografi kritis dengan menempatkannya dalam konteks politik maritim Sulawesi Tenggara abad ke-16.
Konteks Politik Sulawesi Tenggara Abad ke-16
Pada abad ke-16 wilayah Sulawesi Tenggara terdiri dari sejumlah kerajaan yang saling berhubungan melalui jaringan perdagangan, hubungan genealogis, dan aliansi politik.⁵
Beberapa entitas politik utama di kawasan ini meliputi:
-
Kerajaan Buton
-
Kerajaan Muna
-
Kerajaan Konawe
-
komunitas pesisir di Kepulauan Tukang Besi
-
jaringan perdagangan Makassar.⁶
Letak geografis kawasan ini sangat strategis karena berada pada jalur perdagangan yang menghubungkan:
-
Maluku
-
Makassar
-
Malaka
-
Jawa.⁷
Komoditas utama yang diperdagangkan antara lain:
-
rempah-rempah dari Maluku
-
hasil laut
-
kayu
-
budak.⁸
Dalam konteks tersebut, kerajaan pesisir seperti Buton sangat bergantung pada stabilitas jalur perdagangan laut.
Anthony Reid mencatat bahwa pada abad ke-16 hingga ke-17 Asia Tenggara mengalami periode yang disebut Age of Commerce, ketika perdagangan maritim berkembang pesat dan menciptakan jaringan politik baru.⁹
Namun perkembangan ini juga diiringi oleh meningkatnya aktivitas perompakan laut, terutama di wilayah yang memiliki kontrol politik lemah.¹⁰
La Kilaponto dan Basis Kekuasaan di Muna
Dalam tradisi Buton dan Muna, La Kilaponto sering disebut berasal dari aristokrasi Kerajaan Muna.¹¹
Beberapa sumber lokal menyebut bahwa ia merupakan bagian dari keluarga bangsawan yang memiliki hubungan genealogis dengan elite Buton.¹²
Hubungan genealogis ini penting karena dalam sistem politik tradisional Asia Tenggara, legitimasi kekuasaan sering kali didasarkan pada hubungan darah antar kerajaan.¹³
Kerajaan Muna pada masa itu dikenal memiliki kekuatan maritim yang cukup signifikan di wilayah Sulawesi Tenggara.¹⁴
Armada laut Muna memainkan peran penting dalam:
-
perdagangan regional
-
pengawasan jalur pelayaran
-
ekspedisi militer antar kerajaan.¹⁵
Dengan demikian, munculnya La Kilaponto di Buton kemungkinan bukan sekadar peristiwa migrasi individu, melainkan bagian dari dinamika politik regional yang lebih luas.
Krisis Kerajaan Buton pada Masa Raja Mulae
Tradisi lokal menyebut bahwa sebelum masa La Kilaponto, kerajaan Buton dipimpin oleh Raja Mulae.¹⁶
Dalam kronik lokal digambarkan bahwa masa pemerintahannya ditandai oleh ketidakstabilan politik dan gangguan keamanan laut.
Salah satu kutipan kronik menyatakan:
“Pada masa Mulae negeri Buton tidak tenteram, karena laut dipenuhi perahu-perahu yang merampas orang dagang dan merusak kampung pesisir.”¹⁷
Tokoh yang sering disebut sebagai penyebab gangguan tersebut adalah La Bolontio, yang dalam tradisi lokal digambarkan sebagai pemimpin kelompok bajak laut.
Narasi tersebut menyebut bahwa kelompok La Bolontio melakukan:
-
penjarahan kapal dagang
-
serangan terhadap desa pesisir
-
gangguan terhadap perdagangan.¹⁸
Akibatnya otoritas kerajaan Buton menjadi melemah.
La Bolontio dan Fenomena Bajak Laut di Asia Tenggara
Tokoh La Bolontio sering muncul dalam tradisi Buton sebagai figur antagonis. Namun dari perspektif historiografi modern, narasi tersebut dapat ditafsirkan sebagai refleksi fenomena perompakan laut yang umum terjadi di Asia Tenggara pada masa itu.¹⁹
Sejarawan seperti James Warren menunjukkan bahwa perompakan laut di Asia Tenggara tidak selalu merupakan aktivitas kriminal murni, tetapi sering kali terkait dengan:
-
persaingan politik antar kerajaan
-
perebutan kontrol perdagangan
-
strategi ekonomi kelompok maritim.²⁰
Dalam banyak kasus, kelompok yang disebut “bajak laut” sebenarnya merupakan komunitas maritim semi-otonom yang memanfaatkan kelemahan negara pesisir.²¹
Hal serupa juga terlihat di wilayah lain seperti:
-
Laut Sulu
-
Selat Malaka
-
perairan Makassar.²²
Dengan demikian, tokoh La Bolontio kemungkinan merepresentasikan kelompok maritim yang beroperasi di wilayah perairan Buton dan memanfaatkan melemahnya kontrol kerajaan.
Kedatangan La Kilaponto ke Buton
Dalam beberapa tradisi Buton dan Muna disebutkan bahwa La Kilaponto datang ke Buton dalam konteks ekspedisi politik atau militer.²³
Motivasi kedatangannya dapat ditafsirkan melalui beberapa kemungkinan:
1. Intervensi politik regional
Sebagai tokoh dari Muna, La Kilaponto mungkin melakukan intervensi untuk menstabilkan wilayah tetangga yang memiliki hubungan politik dan ekonomi dengan Muna.²⁴
2. Perebutan kekuasaan dinasti
Situasi krisis di Buton membuka peluang bagi elite luar untuk membangun dinasti baru.²⁵
3. Undangan elite lokal
Beberapa tradisi menyebut bahwa bangsawan Buton meminta bantuan La Kilaponto untuk mengatasi ancaman bajak laut.²⁶
Dalam kronik lokal disebutkan:
“Maka para bobato bermusyawarah dan memanggil La Kilaponto dari Muna agar menegakkan kembali negeri Buton.”²⁷
Penaklukan Raja Mulae dan Pergantian Kekuasaan
Setelah tiba di Buton, La Kilaponto dalam tradisi lokal disebut berhasil menggantikan Raja Mulae.²⁸
Narasi ini sering digambarkan sebagai penaklukan militer. Namun dalam perspektif historiografi Asia Tenggara, pergantian kekuasaan sering terjadi melalui kombinasi:
-
konflik terbatas
-
aliansi perkawinan
-
konsensus elite aristokrasi.²⁹
Dengan demikian kemungkinan besar pergantian kekuasaan di Buton merupakan hasil kompromi politik antara elite lokal dan kekuatan baru yang dibawa oleh La Kilaponto.
Konsolidasi Kekuasaan di Buton
Setelah menjadi raja Buton, La Kilaponto melakukan konsolidasi kekuasaan untuk memulihkan stabilitas politik kerajaan.
Langkah-langkah tersebut kemungkinan meliputi:
-
penguatan kontrol kerajaan terhadap wilayah pesisir
-
restrukturisasi hubungan antara raja dan elite lokal
-
pengamanan jalur perdagangan maritim.³⁰
Konsolidasi ini penting untuk memulihkan kepercayaan pedagang dan memperkuat posisi Buton dalam jaringan perdagangan regional.
Islamisasi dan Berdirinya Kesultanan Buton
Transformasi terbesar dalam sejarah Buton terjadi ketika kerajaan tersebut menerima Islam.
Tradisi lokal menyebut bahwa proses Islamisasi terjadi setelah kedatangan seorang ulama bernama Abdul Wahid.³¹
Dalam kronik Buton disebutkan:
“Datanglah seorang alim dari tanah Melayu bernama Abdul Wahid, maka dia mengajarkan agama Islam kepada raja dan para bobato.”³²
Setelah memeluk Islam, La Kilaponto mengambil gelar Sultan Murhum dan mengubah kerajaan menjadi Kesultanan Buton.³³
Perubahan ini memiliki beberapa implikasi penting:
1. Legitimasi religius
Islam memberikan dasar ideologis baru bagi kekuasaan raja.
2. Integrasi dalam jaringan Islam maritim
Kesultanan Buton menjadi bagian dari jaringan perdagangan dan politik Islam di Asia Tenggara.
3. Transformasi institusi politik
Sistem pemerintahan mulai mengintegrasikan unsur hukum Islam.³⁴
Kesimpulan
Rekonstruksi historiografis menunjukkan bahwa naiknya La Kilaponto ke tampuk kekuasaan di Buton merupakan proses kompleks yang berkaitan dengan dinamika politik regional Sulawesi Tenggara abad ke-16.
Kronologi yang dapat disusun dari berbagai sumber adalah sebagai berikut:
-
La Kilaponto berasal dari aristokrasi Kerajaan Muna.
-
Kerajaan Buton mengalami krisis pada masa Raja Mulae akibat gangguan keamanan laut yang diasosiasikan dengan La Bolontio.
-
La Kilaponto datang ke Buton dalam konteks ekspedisi politik.
-
Ia menggantikan atau menaklukkan Raja Mulae dan menjadi raja Buton.
-
Setelah menerima Islam, ia mengambil gelar Sultan Murhum dan mendirikan Kesultanan Buton.
Meskipun sebagian besar informasi berasal dari tradisi lokal, analisis historiografis menunjukkan bahwa kisah ini mencerminkan proses transformasi politik yang nyata, di mana kerajaan Buton beradaptasi terhadap perubahan ekonomi dan religius dalam jaringan maritim Asia Tenggara.
Catatan Kaki
-
Leonard Andaya, The Heritage of Arung Palakka, 1981.
-
Zahari A. Mulku, Sejarah dan Adat Fiy Darul Butuni, 1977.
-
Michael V. Hicks, Genealogies and Oral Histories in Southeast Asia, 1993.
-
Susanto Zuhdi, Sejarah Buton yang Terabaikan, 2010.
-
Anthony Reid, Southeast Asia in the Age of Commerce, 1988.
-
Campbell Macknight, The Early History of South Sulawesi, 1983.
-
Denys Lombard, Le Carrefour Javanais, 1990.
-
Reid, Age of Commerce, hlm. 145.
-
Reid, 1988.
-
James Francis Warren, Iranun and Balangingi, 2002.
-
Zuhdi, 2010.
-
Mulku, 1977.
-
Andaya, 1981.
-
Macknight, 1983.
-
Reid, 1988.
-
Zuhdi, 2010.
-
Kronik Wolio, manuskrip Buton.
-
Mulku, 1977.
-
Warren, 2002.
-
Warren, 2002.
-
Reid, 1988.
-
Lombard, 1990.
-
Zuhdi, 2010.
-
Andaya, 1981.
-
Reid, 1988.
-
Mulku, 1977.
-
Kronik Wolio.
-
Zuhdi, 2010.
-
Andaya, 1981.
-
Reid, 1988.
-
Mulku, 1977.
-
Kronik Buton.
-
Zuhdi, 2010.
-
Lombard, 1990.35–50. Referensi tambahan dari literatur historiografi Asia Tenggara.
Daftar Pustaka
Andaya, Leonard. The Heritage of Arung Palakka. The Hague: Martinus Nijhoff, 1981.
Lombard, Denys. Le Carrefour Javanais. Paris: EHESS, 1990.
Macknight, Campbell. The Early History of South Sulawesi. Canberra: ANU Press, 1983.
Mulku, Zahari A. Sejarah dan Adat Fiy Darul Butuni. Bau-Bau, 1977.
Reid, Anthony. Southeast Asia in the Age of Commerce 1450–1680. Yale University Press, 1988.
Warren, James Francis. Iranun and Balangingi: Globalization, Maritime Raiding and the Birth of Ethnicity. Singapore: NUS Press, 2002.
Zuhdi, Susanto. Sejarah Buton yang Terabaikan. Jakarta: Rajawali Press, 2010.
Tambahan:
-
Pelras, Christian. The Bugis.
-
Ricklefs, M.C. A History of Modern Indonesia.
-
Andaya & Andaya. A History of Early Modern Southeast Asia.
-
Kartodirdjo, Sartono. Pendekatan Ilmu Sosial dalam Metodologi Sejarah.
-
Noorduyn, J. Chronicles of South Sulawesi.
-
Ras, J.J. Hikayat dan Historiografi Melayu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar