Tradisi Pogiraha Adhara/ Perkelahian Kuda Di Muna, Philipina, Vietnat dan Tiongkok
Persamaan dan Perbedaan berdasarkan Study Etnografi dan Histografi
![]() |
| gambar ilustrasi |
Tradisi pogiraha adhara dalam budaya Muna dapat dibaca sebagai praktik simbolik yang kompleks: ia bukan sekadar “pertarungan hewan”, tetapi representasi nilai sosial seperti kehormatan, keberanian, kontrol diri, dan batas moral. Dalam kajian antropologi, praktik seperti ini biasanya dianalisis melalui pendekatan ritual, simbolisme, dan hubungan manusia–hewan dalam masyarakat agraris-maritim Asia Tenggara.
Di bawah ini saya jelaskan secara ringkas praktik serupa di wilayah lain serta kemungkinan keterkaitan budayanya secara ilmiah.
Berikut penjelasan ilmiah mengenai tradisi Pohiraha Adhara/ Perkelahian Kuda mengenai persamaan dan perbedaan Tradisi tersebut di masing- masing kawasan/ Negara:.
1. Praktik serupa di kawasan lain
a. Filipina (Cotabato Selatan / Mindanao)
Di beberapa komunitas etnis di Mindanao, terutama kelompok Maguindanao dan Maranao, terdapat praktik adu kuda jantan dalam konteks festival lokal atau hiburan tradisional.
- Biasanya terkait dengan status sosial pemilik kuda.
- Kuda jantan dilepas untuk bereaksi secara alami terhadap keberadaan betina.
- Sama seperti di Muna, ada pengendalian oleh pawang untuk mencegah cedera serius.
Makna budaya:
- Simbol maskulinitas dan kehormatan laki-laki.
- Representasi kompetisi sosial antar keluarga atau kelompok.
b. Guangxi (Tiongkok Selatan)
Di wilayah Guangxi, khususnya pada etnis minoritas seperti Zhuang:
- Ada tradisi festival rakyat yang melibatkan interaksi antar hewan, termasuk kuda.
- Walau tidak selalu berupa “adu kuda” formal, perilaku agresif kuda jantan dimanfaatkan sebagai tontonan ritual.
Makna budaya:
- Berkaitan dengan siklus agraris dan kesuburan.
- Kuda dipandang sebagai simbol kekuatan vital dan energi (qi).
c. Vietnam Utara
Di wilayah pegunungan utara Vietnam (misalnya komunitas Hmong):
- Terdapat festival tradisional yang menampilkan kuda, termasuk interaksi kompetitif antar kuda jantan.
- Lebih sering dikombinasikan dengan pacuan kuda dan ritual komunitas.
Makna budaya:
- Kuda sebagai simbol status ekonomi dan keberanian.
- Bagian dari perayaan komunal dan identitas etnis.
2. Analisis komparatif (ilmiah)
a. Perspektif antropologi simbolik
Mengacu pada pemikiran Clifford Geertz tentang “deep play” (misalnya dalam sabung ayam Bali), praktik seperti Pogiraha Adhara dapat dipahami sebagai:
- Metafora konflik sosial manusia
- Representasi kehormatan dan hierarki sosial
- Ritualisasi agresi dalam bentuk yang terkontrol
Dengan kata lain, kuda “bertarung” menggantikan manusia.
b. Teori domestikasi dan budaya hewan
Dalam kajian anthropology dan ethnozoology:
- Kuda di Asia Tenggara adalah simbol mobilitas, kekuasaan, dan maskulinitas.
- Perilaku alami kuda jantan (kompetisi seksual) sering “dikulturalisasi” menjadi ritual.
c. Pola difusi budaya (cultural diffusion)
Ada dua kemungkinan penjelasan ilmiah:
1) Difusi budaya (penyebaran historis)
- Asia Tenggara dan Asia Selatan Tiongkok terhubung melalui jalur perdagangan maritim kuno.
- Interaksi antara Sulawesi, Filipina, dan Vietnam sudah berlangsung sejak pra-kolonial.
- Tradisi bisa menyebar bersama migrasi dan pertukaran budaya Austronesia.
2) Evolusi paralel (independent development)
- Masyarakat agraris yang memelihara kuda cenderung mengembangkan praktik serupa.
- Perilaku alami kuda jantan → diinterpretasikan secara simbolik.
- Jadi kemiripan tidak selalu berarti hubungan langsung.
👉 Banyak antropolog menganggap kombinasi keduanya terjadi.
3. Kesamaan utama lintas wilayah
Secara komparatif, ada pola yang konsisten:
| Aspek | Muna | Filipina | Guangxi | Vietnam |
|---|---|---|---|---|
| Simbol kehormatan | ✔ | ✔ | ✔ | ✔ |
| Maskulinitas | ✔ | ✔ | ✔ | ✔ |
| Ritual/ festival | ✔ | ✔ | ✔ | ✔ |
| Pengendalian (pawang) | ✔ | ✔ | sebagian | sebagian |
| Konteks agraris | ✔ | ✔ | ✔ | ✔ |
4. Perbedaan penting
- Muna: kuat pada filosofi moral (batas konflik & kehormatan).
- Filipina: lebih terkait status sosial dan kompetisi antar kelompok.
- China (Guangxi): lebih ritual kosmologis (energi & kesuburan).
- Vietnam: lebih sebagai bagian festival komunitas.
5. Referensi ilmiah
Berikut beberapa rujukan yang bisa digunakan untuk kajian lebih lanjut:
- Geertz, Clifford. Deep Play: Notes on the Balinese Cockfight (1973)→ Analisis simbolik pertarungan hewan sebagai metafora sosial
- Ingold, Tim. The Perception of the Environment (2000)→ Relasi manusia-hewan dalam budaya
- Marvin, Garry. Animal Encounters (2005)→ Praktik budaya yang melibatkan hewan
- Reid, Anthony. Southeast Asia in the Age of Commerce (1988)→ Jaringan budaya dan perdagangan Asia Tenggara
- Blench, Roger. Studies on Austronesian cultural diffusion→ Penyebaran budaya dan hewan domestik
6. Kesimpulan analitis
- Tradisi seperti Pogiraha Adhara bukan fenomena lokal yang terisolasi, tetapi bagian dari pola budaya yang lebih luas di Asia Tenggara dan Asia Selatan Tiongkok.
- Kesamaannya menunjukkan:
- fungsi simbolik universal (kehormatan, maskulinitas, kompetisi)
- serta kemungkinan jalur difusi budaya Austronesia dan jaringan perdagangan kuno
- Namun, setiap daerah mengembangkan makna lokal yang unik, sesuai dengan struktur sosial dan kosmologi masing-masing.
