**BENTENG KOTANO WUNA SEBAGAI BENTENG TERPANJANG DAN TERLUAS DI DUNIA:
KAJIAN HISTORIS, ARKEOLOGIS, DAN POTENSI PENGAKUAN INTERNASIONAL**
Muhammad Alimuddin Sadu
Abstrak
Benteng Kotano Wuna merupakan salah satu situs arkeologi penting di Kabupaten Muna, Provinsi Sulawesi Tenggara, yang merepresentasikan kejayaan Kerajaan Muna pada abad ke-15. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji karakteristik historis, arsitektural, serta potensi pengakuan internasional Benteng Kotano Wuna sebagai benteng terluas dan terpanjang di dunia. Metode yang digunakan adalah pendekatan deskriptif-kualitatif berbasis studi literatur, data arkeologis, serta hasil pengukuran modern. Hasil kajian menunjukkan bahwa benteng ini memiliki luas area sekitar 163–165 hektar dengan panjang tembok mencapai ±8,07 km. Selain berfungsi sebagai sistem pertahanan, kawasan ini juga merupakan kota benteng yang mencakup permukiman, pusat pemerintahan, dan situs pemakaman kerajaan. Secara nasional, benteng ini telah diakui oleh Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI) sebagai benteng terluas. Secara internasional, Benteng Kotano Wuna memiliki potensi kuat untuk diakui oleh Guinness World Records dalam kategori “Largest Historical Fortress by Enclosed Area”.
Kata kunci: Benteng Kotano Wuna, Kerajaan Muna, benteng terluas, arkeologi, Guinness World Records
1. Pendahuluan
Benteng merupakan salah satu bentuk warisan budaya yang mencerminkan sistem pertahanan, struktur sosial, serta organisasi politik suatu peradaban. Di Indonesia, berbagai benteng peninggalan kerajaan lokal menunjukkan tingkat teknologi dan strategi militer yang berkembang jauh sebelum masa kolonial. Salah satu benteng yang memiliki nilai historis tinggi adalah Benteng Kotano Wuna di Kabupaten Muna, Sulawesi Tenggara.
Benteng Kotano Wuna dikenal sebagai pusat pemerintahan Kerajaan Muna pada abad ke-15. Kawasan ini tidak hanya berfungsi sebagai benteng pertahanan, tetapi juga sebagai kota yang melindungi aktivitas sosial, politik, dan budaya masyarakat Muna. Dalam konteks global, ukuran dan kompleksitas benteng ini menjadikannya objek kajian penting dalam studi arkeologi dan sejarah Asia Tenggara.
2. Metodologi Penelitian
Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan pendekatan historis dan arkeologis. Data diperoleh melalui:
-
Studi literatur sejarah Kerajaan Muna
-
Analisis data pengukuran benteng (GIS dan pemetaan modern)
-
Dokumentasi hasil penelitian arkeologis
-
Kajian terhadap pengakuan lembaga resmi seperti MURI
Pendekatan ini digunakan untuk memahami secara komprehensif struktur fisik, fungsi historis, serta relevansi global Benteng Kotano Wuna.
3. Hasil dan Pembahasan
3.1 Lokasi dan Sejarah Benteng Kotano Wuna
Benteng Kotano Wuna terletak di Kecamatan Tongkuno, Kabupaten Muna, sekitar 22–25 km dari Kota Raha. Benteng ini merupakan bagian dari Kota Wuna, pusat pemerintahan Kerajaan Muna pada abad ke-15.
Pembangunan benteng diperkirakan dimulai pada masa Raja Muna VII, La Kilaponto, dan disempurnakan oleh Raja La Posasu. Fungsi utama benteng adalah sebagai sistem pertahanan sekaligus simbol kekuasaan kerajaan. Seiring waktu, faktor perang, wabah, dan perpindahan penduduk menyebabkan kawasan ini ditinggalkan dan mengalami degradasi.
3.2 Struktur dan Arsitektur Benteng
Benteng Kotano Wuna dibangun dengan memanfaatkan kondisi alam seperti perbukitan dan tebing, yang memperkuat fungsi pertahanannya. Struktur utama berupa tembok batu dengan karakteristik sebagai berikut:
-
Panjang tembok: ±8,073 km
-
Tinggi tembok: ±3–4 meter
-
Ketebalan: ±3 meter
Sebagian struktur benteng saat ini tidak lagi utuh, namun jalurnya masih dapat diidentifikasi melalui penelitian arkeologis dan teknologi pemetaan modern.
3.3 Luas Kawasan dan Fungsi Kota Benteng
Benteng Kotano Wuna memiliki luas area sekitar 163–165 hektar, menjadikannya salah satu benteng dengan cakupan wilayah terbesar di dunia.
Kawasan ini mencakup:
-
Permukiman masyarakat
-
Pusat pemerintahan kerajaan
-
Situs pemakaman raja
-
Ruang sosial dan budaya
Dengan demikian, benteng ini tidak hanya berfungsi sebagai pertahanan militer, tetapi juga sebagai sistem kota yang terorganisir.
3.4 Pengakuan Nasional dan Signifikansi Global
Pada 22 Mei 2024, Benteng Kotano Wuna memperoleh pengakuan dari Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI) sebagai benteng terluas di dunia berdasarkan pengukuran ilmiah.
Pengakuan ini menunjukkan bahwa benteng tersebut memiliki nilai historis dan budaya yang sangat tinggi, serta menjadi identitas penting bagi masyarakat Muna dan Indonesia.
3.5 Potensi Pengakuan Guinness World Records
Benteng Kotano Wuna memiliki potensi kuat untuk diakui secara internasional dalam kategori:
“Largest Historical Fortress by Enclosed Area”
Kategori ini menekankan:
-
Luas area yang dilingkupi benteng
-
Fungsi historis sebagai kota benteng
-
Keberadaan sistem pertahanan terintegrasi
Keunggulan Benteng Kotano Wuna meliputi:
-
Luas area yang jauh melampaui benteng lain
-
Struktur kota yang jelas secara historis
-
Bukti arkeologis dan pengukuran modern
Namun demikian, hingga saat ini pengakuan internasional belum diperoleh karena belum adanya pengajuan resmi dan verifikasi oleh lembaga Guinness.
3.6 Perbandingan dengan Benteng Lain
Jika dibandingkan dengan benteng lain di Indonesia seperti Benteng Keraton Buton, terdapat perbedaan mendasar:
| Aspek | Keraton Buton | Kotano Wuna |
|---|---|---|
| Abad | 16 | 15 |
| Luas Area | ±23 ha | ±165 ha |
| Fungsi | Keraton | Kota benteng penuh |
| Panjang Tembok | ±2,7 km | ±8,07 km |
| Kondisi Tembok | Lebih utuh | Sebagian tertimbun |
| Status Guinness | Sudah | Potensial |
Perbedaan ini menunjukkan bahwa keduanya memiliki keunggulan dalam kategori yang berbeda, sehingga tidak saling bertentangan dalam konteks pengakuan internasional.
4. Kesimpulan
Benteng Kotano Wuna merupakan salah satu warisan budaya terbesar di Indonesia yang mencerminkan kemajuan peradaban Kerajaan Muna pada abad ke-15. Dengan luas area mencapai ±165 hektar dan panjang tembok ±8 km, benteng ini tidak hanya berfungsi sebagai sistem pertahanan, tetapi juga sebagai kota benteng yang kompleks.
Secara nasional, pengakuan oleh MURI memperkuat posisinya sebagai benteng terluas. Secara internasional, Benteng Kotano Wuna memiliki potensi besar untuk diakui oleh Guinness World Records dalam kategori “Largest Historical Fortress by Enclosed Area”, dengan catatan dilakukan pengajuan resmi dan verifikasi ilmiah.
Pelestarian dan pengembangan situs ini sangat penting, tidak hanya untuk kepentingan akademik, tetapi juga untuk memperkuat identitas budaya dan pariwisata Indonesia di tingkat global.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar